Malam itu seharusnya berjalan damai.
Ayah sudah siap menonton pertandingan sepak bola.
Ibu sudah siap menikmati waktu santai sambil menggulir media sosial.
Rana sudah siap… entahlah. Anak kecil biasanya tidak perlu alasan untuk membuat keadaan menjadi tidak damai.
“Remote TV mana?” tanya Ayah.
Ibu yang sedang rebahan menjawab santai.
“Di meja.”
“Enggak ada.”
“Coba lihat lagi.”
“Sudah.”
Ibu akhirnya ikut melihat.
Benar saja.
Remote TV menghilang.
Seketika ruang tamu berubah menjadi lokasi investigasi.
“Tolong semua tenang,” kata Ayah.
“Kita harus berpikir logis.”
Ibu mengangguk.
Lalu mereka berdua langsung panik.
Bantal sofa dibongkar.
Kolong meja diperiksa.
Rak TV diacak-acak.
Tas belanja yang bahkan tidak ada hubungannya ikut digeledah.
Remote tetap tidak ditemukan.
“Terakhir siapa yang pegang?” tanya Ibu.
Ayah menunjuk Ibu.
Ibu menunjuk Ayah.
Mereka saling menatap.
Suasana menjadi tegang.
“Aku yakin tadi kamu yang nonton TV.”
“Tapi habis itu kamu ganti channel.”
“Terus?”
“Berarti terakhir di tangan kamu.”
“Itu bukan cara kerja hukum.”
“Memangnya kita di pengadilan?”
“Ini lebih serius dari pengadilan.”
Ayah menghela napas panjang.
Pertandingan akan dimulai lima belas menit lagi.
Waktu semakin sempit.
Pencarian memasuki tahap kedua.
Seluruh anggota rumah menjadi tersangka.
Ayah.
Ibu.
Bahkan boneka kelinci milik Rana ikut dicurigai.
“Siapa tahu diselipin di situ.”
“Kelinci itu enggak punya tangan.”
“Kita tidak boleh menutup kemungkinan.”
Rana masuk ke ruang tamu.
“Mama lagi ngapain?”
“Cari remote.”
“Oh.”
Jawaban yang terlalu santai.
Mencurigakan.
Ibu dan Ayah saling berpandangan.
Mereka menemukan tersangka baru.
“Rana…”
“Iya?”
“Rana lihat remote TV?”
“Lihat.”
Ayah langsung bersemangat.
“Di mana?”
“Ada.”
“Ya memang ada, sekarang di mana?”
“Ada pokoknya.”
Jawaban khas anak kecil yang sukses membuat tekanan darah naik.
Interogasi berlangsung selama sepuluh menit.
Hasilnya nihil.
Rana hanya mengulang informasi yang tidak membantu.
“Warnanya hitam.”
“Memang.”
“Ada tombolnya.”
“Memang.”
“Bentuknya remote.”
“YA MEMANG REMOTE!”
Pertandingan tinggal lima menit lagi.
Ayah mulai pasrah.
Ibu mulai mencari harga remote baru di internet.
Mereka sudah menerima kenyataan pahit.
Remote itu mungkin telah memasuki dimensi lain.
Terdengar suara sesuatu terseret dari arah kamar.
Krek…
Krek…
Krek…
Ayah dan Ibu menoleh bersamaan.
Seekor kucing berjalan santai melintasi ruang tamu.
Di belakangnya, terseret sebuah benda hitam yang sangat mereka kenal.
Remote TV.
Ayah dan Ibu saling menatap.
Dua puluh menit pencarian.
Empat tersangka.
Satu interogasi.
Dan pelakunya tidak pernah masuk daftar.





