Hai, Mita.
Kalau suatu hari nanti kamu menemukan tulisan ini, mungkin kamu sudah lupa seperti apa rasanya berada di fase ini. Fase ketika hampir setiap hari ada sesuatu yang dipikirkan.
Bukan karena hidup sedang buruk. Tapi karena ada terlalu banyak hal yang belum jelas.
Kamu ingat?
Kamu menjalani hari-hari dengan perasaan seperti sedang menunggu sesuatu bergerak.
Menunggu kabar.
Menunggu kesempatan.
Menunggu jawaban.
Menunggu keadaan menjadi sedikit lebih ringan.
Kadang kamu optimis sekali.
Sampai merasa semuanya akan baik-baik saja.
Lalu beberapa jam kemudian kamu bisa duduk diam memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bahkan belum tentu terjadi. Kamu hidup di antara harapan dan kekhawatiran.
Bergantian.
Terus seperti itu.
Yang membuatmu lelah bukan hanya apa yang terjadi. Tapi apa yang ada di kepalamu. Karena kamu memikirkan banyak hal sekaligus.
Tentang hari ini.
Tentang beberapa bulan ke depan.
Tentang orang-orang yang kamu sayangi.
Tentang tanggung jawab yang tidak bisa kamu abaikan.
Tentang mimpi-mimpi yang belum kamu lepaskan meski kadang terasa jauh.
Kamu sering bertanya dalam hati,
“Apa aku sudah melakukan cukup?”
Dan lucunya, pertanyaan itu muncul bahkan setelah kamu berusaha seharian. Kamu juga sedang belajar menerima sesuatu yang tidak pernah kamu sukai: bahwa tidak semua hal bisa dipercepat. Ada hal-hal yang hanya bisa didoakan lalu ditunggu. Dan menunggu ternyata jauh lebih melelahkan daripada apapun. Kalau nanti suatu hari kamu lupa, aku ingin mengingatkan satu hal. Di masa ini, kamu tidak menyerah.
Meski sering takut.
Meski sering menangis diam-diam.
Meski kadang kehilangan semangat.
Meski berkali-kali merasa ingin berhenti memikirkan semuanya.
Kamu tetap bangun esok hari. Tetap menjalankan apa yang perlu dijalankan.
Tetap mencoba.
Tetap berharap.
Padahal tidak ada jaminan apa pun.
Dan itu keberanian. Bukan keberanian yang besar dan dramatis. Tapi keberanian yang sunyi.
Keberanian untuk tetap percaya ketika belum ada alasan yang cukup untuk percaya. Aku tidak tahu bagaimana keadaanmu saat membaca ini.
Mungkin semua yang sedang membuatmu khawatir akhirnya selesai.
Mungkin tidak persis seperti yang kamu bayangkan.
Tapi aku harap saat itu kamu bisa menoleh ke belakang dan berkata,
“Oh iya… aku ingat masa itu.”
Masa ketika aku sering merasa sendirian dengan pikiranku sendiri.
Masa ketika aku berusaha terlihat baik-baik saja sambil terus mencari jalan keluar.
Masa ketika aku belajar bahwa kuat tidak selalu berarti tidak takut.
Kadang kuat hanya berarti tetap berjalan sambil takut.
Dan lihatlah.
Kita sampai di sini.
Juni 2026





