Search
Close this search box.

Kisah Sekarung Beras

Kisah Sekarung Beras

Karya Annzhu

Cerita ini terjadi di masa di mana teknologi komunikasi belum secanggih sekarang. Di sebuah kampung yang mana penduduknya juga masih banyak memanfaatkan sungai sebagai sarana kebersihan mereka. 

Alkisah hiduplah seorang ibu bersama kelima anaknya yang masih bersekolah. Mereka tinggal di sebuah rumah yang mereka sewa dari seorang nenek tua. Sang ayah bekerja di kota lain sebagai supir. Sang ayah pulang hanya dua kali setahun. Namun ayah tetap rutin mengirim uang bulanan untuk biaya hidup mereka berenam. Karena terkadang uang kiriman ayah tak cukup maka sang ibu mencari tambahan penghasilan dengan pekerjaan lain. Seperti menjahit atau membantu mencuci baju di sebuah komplek dekat perkampungan mereka. 

Suatu hari sang ibu mendapati persediaan berasnya tinggal sedikit lagi. Hanya cukup untuk mereka berenam sekali makan saja. Ibu melirik dompetnya. Tak banyak lagi uang tersisa. 

‘ Bagaimana ini? “ gumam ibu dalam hati. Belum ada yang menyuruhnya menjaht atau mencuci lagi. Jika harus berhutang, kemanakah aku harus berhutang? batin ibu. Tetangga sekitar rumahnya bukanlah orang yang berkecukupan. Dan kenalan ibu juga tak terlalu banyak. 

Lalu ibu teringat nenek tua sang pemilik rumah. Siapa tahu nenek bisa bantu. 

Ibu bergegas pergi ke rumah sang nenek yang terletak hanya seratus meter dari rumahnya. 

“ Assalamualaikum. “ ibu mengucap salam setelah mengetuk pintu rumah nenek. 

“ Waalaikumsalam. “ terdengar jawaban dari dalam rumah. Pintu terbuka dan tampaklah sang nenek pemilik rumah. Ibu tersenyum kecil. 

“ Nek, maaf saya mau minta tolong. “ 

‘ Minta tolong apa bu? “ tanya nenek tanpa mempersilahkan ibu masuk ke dalam. 

“ Gini nek. Beras saya habis. Dan ayah belum  ngirim uang lagi. Kalo boleh saya pinjam uang untuk beli beras. “ ibu menundukkan kepala, merasa malu. Nenek menatap ibu yang sedang menunduk itu dengan sedikit angkuh. 

“ Kalo saya ga ada uang bu. “ 

Ibu mengangguk pasrah. Sudah hendak pamit pulang saat tiba-tiba nenek berkata lagi. 

“ Pinjam ke mbak Wati aja bu. Dia biasa ngutangi beras. “ nenek mengusulkan. Ibu tersenyum lega. Lalu mengangguk setuju. 

Nenek mengantar ibu ke rumah mbak Wati yang letaknya di pinggir sungai besar di kampung itu. Ibu dan nenek melangkah dengan hati-hati karena jalan yang mereka lewati lumayan licin karena hujan deras yang mengguyur tadi malam. 

Sesampainya di depan rumah mbak Wati, nenek langsung mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Seorang pria mempersilahkan mereka masuk lalu duduk di ruang tamu. Tak lama muncullah sosok wanita yang bernama Wati itu. 

“ Eh nenek. Ada apa ya? “ tanyanya. 

“ Ini. Namanya bu Ira. Ngontrak di rumah saya yang satu lagi. Mau ngutang beras. “ jawab nenek tanpa basa-basi. Mata mbak Wati beralih ke ibu, menatapnya dari kepala sampai ujung kaki dengan tajam. Ibu yang lumayan risih juga ditatap seperti itu, menundukkan kepalanya. 

“ Kerja apa bu? “ tanya mbak Wati. 

“ Saya jahit mbak, kadang juga buruh cuci.” jawab ibu pelan. 

‘ Kalo suaminya? “

“ Suami saya di kota. Jadi supir pribadi. “

“  Pulangnya sebulan sekali? ‘ 

“ Engga mbak. Setahun dua kali. “

“ Loh, nanti bayarnya gimana kalo pulangnya lama gitu? “ nada suara mbak Wati terkesan mengejek. 

“ Pulangnya memang ga sebulan sekali mbak. Tapi tiap bulan rutin kirim uang untuk anak-anak. “ jawab ibu sambil tersenyum. Mbak Wati manggut-manggut. 

“ Ya sudah kalo gitu. Mau utang berapa karung? “

“ Satu aja mbak. Cuma buat makan saya sama anak-anak. “ ibu bersyukur dalam hati mbak Wati mau memberikan pinjaman padanya. 

“ Baik. Nanti biar dianter sama anak saya. Di kontrakan nenek kan? ‘

Nenek dan ibu mengangguk. 

“ Sekarung harganya 60 ribu rupiah. Sama bunganya jadi 75 ribu rupiah. Jangka waktunya sebulan yah. Jangan sampe lewat. Kalo lewat nanti bunganya nambah. Nenek bantu ingetin yah. “

“ Iya. Nah itu bu denger kan. Jangan sampe ga dibayar. “ nenek memandang ibu. Ibu mengangguk. Meski dalam hati ia keberatan dengan bunganya. 

Singkat cerita, perjanjian itu telah lewat masanya. Ibu bingung karena ayah tak jua mengirim uang. Dan ibu sendiri tak bisa menghubungi ayah. Sebenarnya ibu punya uang simpanan yang ibu sisihkan dari upah mencuci dan menjahit sebulan terakhir. Namun hanya sepuluh ribu. 

Suara ketukan keras di pintu depan rumah mengejutkan ibu yang tengah berpikir di dapur. Ibu buru- buru membukanya. Tampak mbak Wati dengan muka masam di depannya

“ Bu Ira bayar utang berasnya. Udah lewat ini. “ mbak Wati langsung menagih tanpa mengucapkan salam. Ibu mencoba mengambil hati dengan mempersilahkannya masuk. 

“ Masuk dulu mbak. “

“ Ga perlu. Urusan saya banyak. Cepetan mana uangnya. “ 

“ Eee…anu mbak. Suami saya belum ngirim. “ jawab ibu pelan. Mbak Wati menghela napas cepat.

“ Katanya sebulan sekali ngirim uang. “

“ Iya mbak. Tapi ini lagi telat. Ada masalah mungkin mbak. “ ibu berkata lagi. Lalu melanjutkan, “ Ini saya ada sepuluh ribu mbak. “

Mbak Wati mendengus kesal. 

“ Buat bunganya aja ga cukup bu. Ya sudah nanti saya kesini lagi. Uangnya harus udah ada. “ tanpa berpamitan mbak Wati kemudian berlalu meninggalkan ibu yang meremas lembaran sepuluh ribu di tangannya dengan hati pedih. 

Dalam hati ia berdoa semoga Allah memberikan jalan keluar untuk masalahnya ini. 

Seminggu kemudian, mbak Wati datang lagi ke rumah ibu. Ibu yang masih belum mendapat kiriman uang dari ayah memberanikan diri menghadap mbak Wati yang sudah diliputi amarah. 

“ Bu. Ini udah lewat dua minggu. Saya udah sabar yah. Bayar cepetan sekarang. Sama bunganya jadi 82 ribu lima ratus. “

“ Tapi mbak…” mbak Wati memotong ucapan ibu. 

“ Kenapa? Suaminya belum ngirim? Alesannya sama ya. Jangan-jangan ga punya suami lagi sebenernya. “ ucapan mbak Wati membuat ibu merasa sakit hati yang teramat dalam. Namun, sebelum ibu sempat membalas ucapannya, mbak Wati sudah berkata lagi. 

“ Panggilin nenek Minah sekarang. “ perintahnya pada anak lelaiknya yang berdiri tak jauh darinya. Anaknya mengangguk patuh. Tak lama ia datang bersama nenek. 

“ Kenapa mbak Wati? ‘ nenek bertanya bingung. Mbak Wati menunjuk ibu yang masih menunduk. 

“ Ini loh. Ga bayar dia nek. Katanya suaminya belum ngirim. Udah mau dua bulan nih.” 

Nenek Minah menatap ibu dengan pandangan yang sama angkuhnya dengan tatapan mbak Wati. 

“ Bu. Kan udah diingetin, jangan ampe telat bayar. Kalo gini saya yang malu. “ nenek mencibir pada ibu. Ibu meremas ujung bajunya. Ingin sekali menjawab cacian mereka. Namun lidah ibu kelu, hanya bisa membisu. 

“ Dia bilang suaminya belum ngirim. Sebenarnya ada apa engga sih nek suaminya. “ tanya mbak Wati mengejek ibu. 

“ Ada. Saya pernah liat dulu. Tapi udah lama banget. Ah emang belum ngirim kali. Kamu tunggu aja seminggu lagi. “ nenek sedikit membela ibu walaupun masih menatap ibu kesal. Mbak Wati menghela napas panjang. Sebelum pergi ia mengucapkan kata-kata yang membuat ibu tak bisa lagi membendung air matanya. 

“ Kalo dari awal ga mampu bayar itu ya ga usah ngutang. Nyusahin orang aja. “ lalu mbak Wati berlalu diikuti nenek Minah yang memandang ibu sinis. 

Setelah menutup pintu, ibu melangkah ke kamar. Mengambil mukena dan sajadah. Berdoa memohon pada Sang Pencipta. Anak-anaknya yang sedari tadi menyaksikan kejadian itu hanya diam. Mereka ingin membela ibu namun tangan ibu yang menghalangi mereka keluar tadi membuat mereka mengurungkan niatnya. 

Hujan mulai turun. Ibu bersimpuh, memohon ampun pada Allah akan kesalahannya, meminta kekuatan agar bisa lebih bersabar, mohon dibukakan jalan untuk keluar dari masalah ini. 

“ Ya Allah ampuni aku. Ampuni aku ya Allah. Engkau tahu hamba bukan sengaja tak ingin membayar hutang. Engkau pula tahu alasan mengapa hamba berhutang. Bukakanlah pintu hati mereka yang menghina hamba hari ini, agar bisa memahami kesusahan yang hamba alami ya Allah. Dan teruntuk suamiku, mohon Engkau berikanlah kemudahan untuknya dalam mencari nafkah untuk hamba dan anak-anaknya ya Allah. Engkaulah sebaik-baiknya penolong ya Allah. Hamba hanya memohon pertolonganmu ya Allah. “

Doa ibu terucap lirih dari bibirnya. Yang bersamaan dengan jatuhnya buliran bening dari sudut netranya yang keriput membuat anak-anaknya ikut merasakan betapa dalam pedih yang ibu terima hari ini. 

Mereka membiarkan ibu tetap di atas sajadahnya. Tak berani mengganggu. Tiba-tiba. 

“ Assalamualaikum. “ suara ayah yang sedang membuka pintu depan rumah mengejutkan mereka semua. Tak terkecuali ibu. Namun ibu tak berani beranjak dari tempatnya. Takut salah dengar.

“ Ayaaahh. “ Nia si bungsu langsung menghambur ke pelukan ayah. Ayah lalu mencium dan menggendongnya penuh sayang. Tampak baju ayah sedikit kebasahan terkena air hujan.

“ Ayah pulang. “ Mia anak keempat mereka memeluk kaki ayah. Setelah semua anak mencium tangan ayah, ayah menurunkan Nia. Lalu bertanya dimana ibu. Yudi anak pertamanya, menunjuk kamar. Ayah masuk ke kamar dan mendapati ibu yang masih menangis di sajadahnya. 

“ Bu? “ ayah menepuk bahunya yang terguncang. Ibu lalu memeluk ayah erat. Ayah yang bingung dengan sikap ibu membiarkannya. Mungkin rindu, batin ayah. 

“ Ayah kenapa ga kirimi ibu uang? ‘ tanya ibu di sela tangisnya. Ayah melepaskan pelukan ibu lalu menjawab dengan nada meminta maaf. 

“ Iya maaf bu. Jadi pak Santoso kan mau ke luar negeri. Ayah dikasih bonus gede. Terus ayah dibolehin bawa mobilnya kesini. Jadi sengaja ayah ga kirimin uangnya dulu. Soalnya ayah kan mau pulang. Sekalian pengen ajak anak-anak jalan-jalan pake mobil. Maaf ya bu. “ ayah menggenggam tangan ibu. Ibu yang masih terisak membuat ayah bingung. Pasti ada yang tidak beres.

“ Ibu ini nangis kenapa? “ tanya ayah. Ibu lalu mencoba bercerita, meski dengan terbata-bata. 

“ Ibu utang beras pak sama mbak Wati. Tapi karena ibu ga bisa bayar tadi ibu dihina pak. Dibilang jangan ngutang kalo ga bisa bayar. Dibilang suaminya sebenernya ada apa engga. Huhuhuhuhu……’ ibu kembali menangis. Ayah mengelus punggungnya pelan. Terlihat raut muka ayah yang menahan marah. 

‘ Berapa utangnya? “

“ 82 ribu lima ratus sama bunganya. “ 

Ayah lalu mengeluarkan dua lembar uang 50 ribu dari dalam dompetnya. 

“ Yudiii…! ‘ panggil ayah. Yudi lalu masuk ke dalam kamar.

“ Ya yah. “

“ Kamu tahu rumah mbak Wati? “

Yudi mengangguk. Kebetulan anak mbak Wati tadi adalah teman bermainnya dulu. 

“ Bayar ini ke dia. Ga usah minta kembaliannya. Jangan lupa kasih tahu suaminya ibu udah pulang. “ ucap ayah tegas. Yudi mengangguk. 

“ Tapi sekarang hujan yah. “ ibu keberatan, ayah menggeleng. 

“ Bayar sekarang, jangan besok. Sakit hati ayah liat kamu nangis gini. Pake payung Yud. Hati-hati jalannya. “ ayah berpesan. Yudi mengangguk patuh. Lalu bergegas pergi. Saat kembali Yudi mengabarkan kalau yang menerima uangnya adalah suami mbak Wati. Sedangkan mbak Watinya sedang ke sungai.

 Esoknya, saat ibu tengah menjemur baju di depan rumah nenek Minah menghampiri dengan sedikit tergopoh. 

‘ Bu..bu Ira.” panggilnya dari jauh. Saat ia sudah sampai didepan ibu, nenek lalu mencium tangan ibu Ira. Ibu yang terkejut langsung menarik tangannya. 

‘ Kenapa nek? “ tanya ibu bingung. 

‘ Saya minta maaf bu. Saya minta maaf untuk kata-kata dan perbuatan saya yang ga berkenan di hati bu Ira. “ ucapnya membuat ibu heran. 

“ Iya. Sama-sama nek. Tapi ada apa sebenarnya. “

“ Tadi malem pas hujan gede mbak Wati buang air besar di sungai. Eh terus hanyut. Tadi pagi ditemuin nyangkut di pohon gede. Badannya setengah telanjang. Saya ngerasanya itu azab dari Allah karena udah ngehina bu Ira kemarin. “ kata nenek Minah penuh sesal. 

“ Innalillahiwainnailaihirojiun. “ ibu berkata lirih. 

Azab atau bukan itu hanya Allah yang tahu. Namun kisah ini mengajarkan kita bahwa bantulah sesamamu dengan ikhlas, jangan pernah menghina orang, karena doa orang yang terdzolimi langsung dikabulkan oleh Allah. 

 

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Email
RECENT POSTS
ADVERTISEMENT
Scroll to Top