Search
Close this search box.

Kode Rahasia

Kode Rahasia

Karya : Annzhu

” Jadi apa rencananya nih ? ” tanya Agus. Ujang memijat pelan pelipis matanya. Ia masih berpikir sementara Agus duduk gelisah. Mereka tengah merencanakan membuat laporan keuangan palsu tentang biaya produksi pabrik lemari tempat mereka bekerja. Selama ini mereka hanya memberikan data asal-asalan di selembar kertas tanpa ada yang tahu mereka menggelembungkan biaya produksi. Namun, pengganti pak Bambang, yaitu bu Retno, sekarang meminta mereka memberikan data yang lebih rinci. Seperti, biaya bahan baku dan stok barang siap jual. Jika mereka memberikan data yang asli bisa dipastikan mereka akan dipecat. Agus selama ini bertugas mengatur bahan dan Ujang mengatur produksi. Agus biasa melaporkan bahan yang terpakai lebih banyak ketimbang aslinya, dan Ujang yang akan melaporkan barang yang sudah siap jual berdasarkan laporan Agus. Situasi sekarang, stok barang mentah sedang kosong, padahal jika mengikuti laporan Ujang, seharusnya masih ada sekitar 50 lemari lagi. 

” Gini aja. Kita buat laporan seolah-olah barang mentahnya memang ada. ” ucap Ujang setelah lama berpikir. 

” Kalo bu Retno minta cek fisik gimana? ” tanya Agus.

” Di gudang barang setengah jadi masih ada yang belom dicat. Kita pindahin sekarang. ” jawab Ujang lagi. 

” Ada gitu 50 biji? “Agus tak yakin. 

” Kita atur biar keliatannya 50, susun di pojokan. ” jawab Ujang percaya diri. Merekapun bergegas melancarkan aksinya. Pabrik ini sebenarnya tidak terlalu besar. Namun karena sang empunya ingin mengajukan pinjaman ke bank maka dibutuhkan data yang lebih rinci mengenai produksi mereka. Pak Bambang, kepala akunting selama ini, mundur karena usianya dan ingin beristirahat. Bu Retno mulai bekerja dari kemarin dan meminta Ujang sebagai kepala produksi memberikan laporan paling lambat besok pagi. 

Selesai memindahkan barang yang cukup menguras tenaga, Ujang dan Agus segera kembali ke kantor kecil mereka di sudut pabrik dan membuat laporan tertulis. 

Agus mengelap peluhnya dengan handuk kecil yang dia ambil dari dalam tas. Lalu membasahi tenggorokan dengan cairan bening dari botol ungu yang setia ia bawa. Ujang sudah sibuk menuliskan laporan untuk bu Retno. 

” Tapi Jang, kalo kita nulis yang palsu gini, gimana kita tau aslinya berapa. Nanti kalo kita jadi bingung sendiri gimana?” tanya Agus tiba-tiba. 

” Kita buat dua laporan aja. ” usul Ujang. Agus menggeleng cepat. 

” Bahaya. Kalo kebaca orang gimana? ” ucapan Agus masuk akal. Ruangan ini bisa dimasuki siapa saja dan kapan saja. Ujang kembali berpikir. Ia mengusap bibirnya pelan dengan telunjuk saat sebuah ide muncul.

” Kita pake kode aja. “

” Kode? “

” Iya. Kode rahasia. Kita buat laporan yang sama persis kayak yang untuk bu Retno tapi kita kasih kode di barang- barang yang aslinya ga sesuai. Kode yang cuma kita sendiri yang tahu. ” Agus mengangguk setuju. Ketika akhirnya selesai, mereka melakukan tos. 

” Beres.” Mereka tertawa lega. 

 

***

 

” Oke pak Ujang dan pak Agus. Laporannya sudah sesuai ya sama cek fisik. ” ucap bu Retno setelah ke gudang produksi. Ujang dan Agus menggangguk lega. 

” Jadi kira-kira masih mau produksi lagi atau tunggu sampai mentahnya habis pak? ” tanya bu Retno sambil mengusap matanya yang perih karena debu bahan lemari. 

” Ya harus produksi lagi bu. Stok 50 belum aman, pengiriman barang setiap hari bisa 20 lebih. ” Ujang beralasan. Padahal ia ingin cepat-cepat dapat dana segar lagi untuk biaya cicilan mobilnya. 

” Bu Selly pengiriman sehari bisa 20 set?” bu Retno mengalihkan pandangannya dan bertanya pada Selly yang duduk di meja ujung. Selly bertugas di pengaturan pengiriman barang. Selly mengangguk. 

” Kita punya 3 mobil bu. Satu mobil bisa mengantarkan 10 sampai 15 set. Dan minimal harus dua mobil yang jalan dalam sehari. ” jelas Selly singkat. 

” Baik. Berarti untuk seminggu ke depan kita butuh sekitar 140 barang mentah ya. Sekarang ada 50, 90 lagi berarti ya pak. ” 

” Jadiin 100 aja bu. Nanggung. ” sahut Agus sambil tersenyum licik. 

” Baik. Nanti buat perincian biayanya dan langsung ambil dana di kantor saya ya. ” ucap Bu Retno lalu pamit pergi. 

” Siap! ” ucap Ujang dan Agus kompak. Setelah bu Retno berlalu, mereka tos dan tertawa senang. 

 

***

 

Baru 3 bulan Retno bekerja di pabrik lemari Surya namun ia merasa kepalanya pecah. Dia bingung mengapa biaya produksi dan hasil penjualan tak pernah seimbang. Padahal ia sudah menghitung dan melihat fisik barang. 

” Ada yang aneh. ” gumamnya dalam hati. Ia membaca kembali laporan produksi dan pembelian bahan yang ia terima seminggu yang lalu. Ia baru ingat Ujang dan Agus belum memberikan laporan minggu ini. Retno meraih ponselnya dan menelepon Ujang. Malas kalo harus ke kantor lemari, batin Retno. Namun yang menjawab ternyata bukan Ujang.

” Ya bu. Ini Selly. Pak Ujang lagi ke gudang bahan setengah jadi. Ponselnya ketinggalan. ” Selly menjelaskan cepat sebelum Retno berkata halo.

” Oh, oke. Kamu bawain laporan produksi dong, saya butuh sekarang. ” 

” Baik bu. ” Selly menutup telepon dan segera mencari laporan yang dimaksud di tumpukan kertas di meja Ujang. Dulu dia sering disuruh Ujang membawakan laporan untuk pak Bambang. Jadi dia tahu dimana Ujang biasa simpan laporannya. 

” Ini dia. Loh kok dua? Tapi angkanya sama. Eh tapi kok ada tulisan beginian. Ah biarinlah ambil yang mana aja. Angkanya sama ini. ” Selly lalu segera ke ruangan Retno. Saat ia kembali ke mejanya sendiri, ponsel Ujang berdering lagi. Bu Retno lagi, Selly lalu menjawabnya.

” Ya bu.”

” Sel, Ujang belum balik ya? Ini ada yang mau saya tanyakan. ” 

” Tulisan yang kecil-kecil tadi ya bu? Itu mah Selly ngerti. Kita kalo lagi ngobrol di grup suka pake singkatan itu. ” 

” Oh oke. Jadi NGN ini apa?”

” NGN itu ngan. Kalo di Sunda artinya hanya. “

” Apa? Oke. Terus kalo EWH ini apa? ” 

” Euweuh. Artinya ga ada bu. ” 

Ini yang ternyata bikin kepalaku pecah, geram Retno.

” Baik. Makasih ya Selly. Kamu udah bantu saya. Pulang kerja saya traktir kamu makan ya. Oh iya nanti kalo Ujang sudah di kantor, langsung suruh menghadap saya ya, sekalian sama Agus. ” 

” Baiikkk buu..” Selly menutup telepon, meletakkan ponsel Ujang pada tempatnya, dan kembali ke mejanya dengan gembira.

***

Anmita Zulaika lahir di Malang 31 tahun yang lalu. Seorang ibu rumah tangga biasa yang suka menulis cerite pendek. Jejaknya bisa dilihat di instagram anmitazulaika dan facebook Anmita Zulaika  

 

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Email
RECENT POSTS
ADVERTISEMENT
Scroll to Top