Search
Close this search box.

Pengikut Rahasia 

Pengikut Rahasia 

Karya ANNZHU

Aldi masih menatap layar ponselnya meski jam sudah menunjukkan pukul 07.45. Padahal kelas dimulai sekitar 15 menit lagi. Mahasiswa jurusan Sastra Inggris semester 4 itu masih asyik berselancar didunia maya. Sibuk membaca komentar pengikut-pengikutnya di media sosial miliknya. Sebagai cowok populer di kampus, bukan hal aneh jika pengikut di media sosialnya mencapai ribuan. Disatu sisi hal ini memberikan kesenangan tersendiri untuk Aldi. Namun di sisi lain Aldi harus terbiasa menghadapi sikap pengikutnya yang kadang bisa kelewat batas. Seperti pagi ini, mereka meributkan hal sepele, tentang gaya rambut di postingan foto terbarunya. 

[ Aldi cakep deh, tapi lebih bagus kalo rambutnya ga usah pake poni gitu. ] tulis akun annisaajah. 

[ Engga ah, lebih bagus diponi gini. Makin imut. ] balas akun megaamendung. 

Aldi hanya tersenyum membaca mereka yang masih berbalas komentar. Biasanya bentar lagi wasit muncul, batin Aldi. 

[ Kalo emang beneran suka ma Aldi, mau gaya apapun ga masalah dong buat kalian. ]

Tuh kan, gumam Aldi dalam hati. 

[ Iya deh kakak @disebelahtongsampah . ] jawab megamendung. 

[ Yang selalu jadi wasit ditengah perdebatan kami. ] balas annisaajah

[ Fans Aldi Sugiono sejati . ] sahut chachabukancoklat. 

Dan masih banyak balasan komentar dari akun lain untuk akun disebelahtongsampah. Aldi hanya membaca tanpa ikut berkomentar. Berdasarkan pengalamannya jika ia ikut berkomentar ponselnya akan terus bergetar menandakan banyak notifikasi yang masuk. Pengikutnya pasti langsung heboh jika ia ikut berkomentar. Ia hanya lebih senang posting foto atau membuat status. Namun satu hal yang mengusik pikiran Aldi, entah mengapa ia penasaran dengan siapa pemlik akun disebelahtongsampah itu. padahal biasanya dia tak begitu peduli mengingat banyaknya pengikut di akunnya. 

Notif tanda Sms masuk menyentakkan Aldi. Dari Lana. Aldi membaca pesan singkat itu dan langsung terbelalak. 

[ Dosen udah masuk ] tulis Lana singkat membuat Aldi tergesa menyambar tas dan berlari ke arah kampus yang memang tak jauh dari asramanya. 

 

***

 

“ Tadi pagi heboh tauk di instagram gue. “ cerita Aldi. Dia dan Lana tengah asyik mengunyah batagor kesukaan mereka di kantin. Lana tak menanggapi. Aldi melanjutkan ceritanya. 

“ Masa mereka ngeributin rambut gue coba. Hahahahaha…“ 

“ Emang kenapa rambut lu? “ tanya Lana malas. 

“ Iya katanya ga pantes pake poni, tapi ada juga yang bilang imut. Terus mereka debat deh. “

‘ Hemmm… “ Lana tak menjawab tapi meminum jus jeruknya. Ia memang tak minat pada cerita Aldi. 

“ Lu makanya punya facebook ma instagram kek. Jadi tahu gimana serunya akun gue. “ ucap Aldi semangat. Lana menggeleng. 

“ Engga ah. Berisik. Lagian hape gue ga support. “ Lana menunjukkan ponsel jadulnya. 

“ Hape cinitnit ya kagak bakalan bisa support. Beli android dong. Atau pake laptop lu juga kan bisa. “ ucap Aldi lagi. Dia dan teman-teman memberi  julukan itu untuk ponsel lama seperti milik Lana karena bunyinya yang terdengar ‘ Cinitnit ‘ . Mereka selalu terkikik tiap ponsel Lana berdering. Namun sang empunya ponsel tak pernah terganggu jika mereka tengah meledek ponselnya. Lana tak peduli jika dianggap kampungan karena masih memiliki ponsel lawas ditengah mereka yang sudah ber-android semua. 

“ Engga ah. Laptop cuma buat ngerjain tugas. “ tolak Lana. “ Lagian kalo gue punya medsos lu masih mau bertemen ma gue? “ Lana balik bertanya. Aldi langsung terdiam. Alasan ia mau berteman lama dengan Lana ya karena gadis berkacamata tebal itu tak memiliki media sosial. Aldi nyaman karena Lana tak akan meminta foto dan memamerkannya di media sosial seperti teman-teman yang lain jika sedang bersamanya. Aldi merasa kebersamaannya dengan Lana selalu terasa nyata. 

” Yaaaa… ya iya sih. ” kata Aldi akhirnya. 

” Ya udah ga usah maksa gue. ” ucap Lana. Aldi tak menjawab. Ia kembali membuka akun medsosnya. Lana lebih memilih mengerjakan tugas di laptopnya. Di sekitar mereka sebenarnya banyak pasang mata yang menatap iri pada Lana. Mereka adalah kaum hawa yang juga ingin dekat dengan Aldi. Namun, karena Lana selalu mengusir mereka tatkala mereka mendekat, maka tak ada lagi yang berani mencoba menghampiri ketika Aldi di kantin. 

 ” Lan, gue bisa ga minta tolong lu?” tanya Aldi tiba-tiba. Dengan mata yang masih terpaku pada laptop, Lana menjawab. 

” Apaan?”

” Lu coba cari siapa pemilik akun ini dong.” Aldi menunjukan layar ponselnya ke wajah Lana. Tampak akun instagram disebelahtongsampah. Akun itu hanya memiliki satu foto. Tong sampah terbesar di kampus mereka yang terletak di lapangan sepak bola. 

” Gimana gue nyarinya? Gue aja ga punya instagram. ” Lana kembali berkutat dengan laptopnya. Aldi menarik ponselnya kembali. Dia mencoba mengirim pesan langsung ke akun itu. 

 

[ Hai, boleh tau kamu siapa? ] 

 

Terkirim. 

 

Tapi, yang mengejutkan Aldi berikutnya adalah, terdengar bunyi notif dari laptop Lana. Aldi mengangkat kepala. Memandang Lana tajam. Lana yang tak menyadari Aldi menatapnya, terus mengetik. 

” Lu ya?” tuduh Aldi. Lana balik menatap Aldi. Raut mukanya bingung.

” Apaan? ” Lana balik bertanya. 

” Ini gue barusan ngirim DM ke akun itu kok laptop lu bunyi notif. ” tutur Aldi. 

” Yah, ngayal deh. Ini notif telegram gue. ” kilah Lana. Namun Aldi tampak tak percaya. 

” Mana sini gue lihat.” Aldi memutar laptop Lana. Lana membiarkan Aldi berbuat semaunya. Aldi mengarahkan kursor ke sana ke mari, membuka semua file. 

” Awas. Tugas gue jangan ampe kehapus. ” Lana mengingatkan. 

Aldi tak menjawab. Ia masih terus mengobrak abrik laptop Lana. Setelah sekitar 10 menit ia berhenti. 

” Udah?Puas? ” Lana menyindir. Aldi memutar kembali laptop ke hadapan Lana. 

” Bisa-bisanya lu ga percaya gue. ” Lana berkata ketus. Aldi meringis.

” Hehehehe…maaf. Abis tadi pas banget momennya. ” Aldi tersenyum manis. Lana ikut tersenyum. 

” Data lu banyak banget sih. Pusing gue liatnya. ” Aldi mengalihkan pembicaraan. 

” Ini kan laptop dari jaman gue SMA. ” jawab Lana pendek.

” Trus gimana masalah gue tadi? ” 

Lana yang sudah selesai mengerjakan tugasnya, mematikan laptop dan merapikan barang-barangnya. 

” Gue ga tau gimana cara bantu lu. Gue kan ga punya medsos. ” Lana menyahut. Aldi menghela napas. 

” Atau gini aja. Nanti gue coba ya, cari tahu di antara cewek- cewek disini.”

Aldi mengangguk setuju. Lana lalu bergegas pergi menuju kelas berikutnya. Tapi, ada hal aneh dalam ucapannya yang disadari Aldi. 

 

***

 

Aldi melempar tasnya sebelum melempar tubuhnya sendiri ke kasur empuk miliknya. Matanya memandang langit-langit kamar asrama. 

 ” Lana. ” ucapnya lirih. Ia begitu menyukai gadis itu, mereka saling mengenal sejak awal masuk kampus. Wajahnya yang tampan membuat banyak kaum hawa menghampiri tanpa perlu ia sapa dulu. Namun, Lana berbeda. Lana tak pernah menyapa dirinya. Tak pernah mencoba berkenalan dengan dirinya. Hingga suatu ketika, Lana menyelamatkan dirinya. Aldi masih ingat betul bagaimana Lana menyiram Bella,  perempuan yang begitu gigih ingin menyentuh wajah Aldi. Aldi risih. Namun perempuan itu tak peduli. Barulah saat Lana menyiram tubuhnya dengan air minum di tangannya, dia berhenti. Lana lalu menyeret Aldi menjauh dari kerumunan itu, dan berhenti di sebelah tong sampah besar kampus mereka.

” Jadi cowok itu jangan cuma bisa tebar pesona doang. Tiap kali lu muncul pasti berisik deh.” Lana membentaknya. Aldi tak menjawab. Ia bingung harus berterima kasih atau minta maaf. 

Sejak itu, mereka selalu bersama-sama. Tak ada yang berani mendekat, dan ketika Aldi tahu Lana tak memiliki media sosial Aldi makin merasa nyaman bersamanya. 

Namun kejadian tadi siang membuatnya ragu. Haruskah aku mencari tahu sendiri? batin Aldi. 

Sebuah ide muncul di kepalanya. Aldi meraih ponsel, membuka akun instagram, mengambil tangkapan layar di akun @sebelahtongsampah lalu mempostingnya dengan caption 

[ Kenapa? Kenapa kamu ga membalas pesanku? Aku ingin mengenalmu. ] 

 Aldi menunggu beberapa saat sebelum akhirnya banyak komentar bermunculan. 

[  Buset deh. DM gue aja cuma di read doang.] tulis akun chachabukancoklat. 

[ Hemmm..aku cemburu bang. ] tulis gadismanisbukanmalika

Dan komentar – komentar lain yang menunjukkan betapa iri mereka pada akun disebelahtongsampah. Aldi menunggu. 

15 menit

30 menit

Sampai ketika hampir satu jam akun disebelahtongsampah tetap tidak muncul. Aldi lalu memposting foto yang sama dengan caption yang berbeda.

[ Baiklah, aku sendiri yang akan memposting fotomu kalo kamu tetap tidak meresponku. ] 

Aldi membanting ponselnya. Lalu pergi mandi membasuh diri. 

Setelah selesai mandi dan makan malam Aldi membuka ponselnya lagi. Aldi tersenyum. Balasan dari akun disebelahtongsampah akhirnya datang. 

 

[ Apa maksud lu? Memangnya lu tahu siapa gue? ] 

Aldi mengetik balasan. 

[ Engga. Sengaja gue bikin postingan itu biar lu respon gue. ] 

[ Lu ga perlu tahu siapa gue. Gue cuma seonggok daun disebelahtongsampah ] 

Aldi diam. Tak membalas lagi. Bukankah ini sudah amat jelas? gumam Aldi dalam hati. 

Aldi lalu menyusun kata-katanya lagi. Sebelum ia memencet tombol kirim, Aldi menghela napas dalam-dalam. Sudah terbayang di benaknya bagaimana reaksi sang pengikut rahasia itu. 

 

[ Sorry, tapi gue beneran udah tahu. Terlalu jelas buat gue, Lan. ] 

 

Di sebuah sudut kamar asrama perempuan, Lana tengah terperangah. Tangannya menutup mulut yang terbuka karena rasa terkejutnya. 

 

” Gimana Aldi bisa tahu? ” gumam Lana pelan. Kemudian dering ponsel cinitnitnya membuat Lana kembali terkejut. 

 

Aldi.

 

Dengan gugup, Lana menjawab telepon Aldi.

 

” Halo. “

” Halo, akun disebelahtongsampah. ” 

 

Lana tersenyum malu sambil memegang kening dengan satu tangannya. 

 

” Kok, lu bisa tau itu gue? Gue kan udah berhasil ngumpet selama 2 tahun ini. Dan gue juga ngumpetin instagram gue di laptop. ” 

”  Lu sendiri yang buka kartu lu. Gue emang ga nemuin apa-apa di laptop lu. Tapi tadi siang lu dengan yakin mau nyari siapa yang punya akun itu di antara cewek-cewek. Padahal belum tentu kan dia cewek. ” penjelasan Aldi membuat Lana menepuk jidatnya. Persembunyiannya bisa ketahuan hanya dengan satu kata. Lu emang pinter, Al. 

” Dan pas tadi lu bilang lu cuma seonggok daun di sebelah tong sampah, bikin gue makin yakin. Cuma lu yang punya kenangan ma gue tentang daun di sebelah tong sampah. ” ucapan Aldi membawa Lana kembali teringat momen dimana ia menyeret Aldi ke sebelah tong sampah setelah ia menyiram Bella. Lana yang kesal karena Aldi tak bisa mengusir Bella yang menyebalkan lalu melempar Aldi dengan onggokan daun yang ada di sebelah tong sampah itu. 

Aldi masih ingat rupanya.

 

” Oke, gue kalah. Terus, sekarang lu masih mau bertemen ma gue? ” tanya Lana setelah beberapa saat mereka membisu. 

” Engga, gue ga mau bertemen lagi ma lu. ” 

Lana memejamkan mata. Jawaban yang sudah ia duga. 

” Oke kalo gitu. ” sahut Lana pelan.

” Gue ga mau kita bertemen lagi. Gue mau kita pacaran aja. ” perkataan Aldi selanjutnya membuat Lana terbelalak. Namun, ia tak mau terkecoh. 

” Masa gue ditembak di telepon? ” Lana merajuk.

” Ya udah keluar sini. Gue didepan asrama. Gue tunggu lu ya, pengikut rahasiaku. ” 

 

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Email
RECENT POSTS
ADVERTISEMENT
Scroll to Top