Search
Close this search box.

Asmara Sesat

Asmara Sesat

Karya :Annzhu

” Plaaakk!” sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Tamparan yang dihadiahkan oleh sesosok wanita yang tengah diselimuti amarah yang membara. Tamparan yang memang pantas untukku.

” Sekolah tinggi tapi kelakuan kayak orang ga punya otak. Cuih!” ia meludah ke sisi kiri tubuhnya. Lalu membalikkan badan dan melangkah cepat meninggalkanku. 

Aku terpaku. Tak beranjak dari tempatku berdiri. Lututku seakan menyatu dengan tanah yang kupijak. Namun aku masih bersyukur, aku hanya ditampar, tak diludahi. Dan dia memakiku di tempat sepi, di belakang pabrik tempatku bekerja. Bukan di depan gerbang. Aku sudah ketakutan setengah mati akan jadi tontonan orang saat ia menyeretku tadi. Bisa hancur reputasiku sebagai karyawan teladan. 

Namaku Lisa, kepala bagian pengiriman di pabrik susu ini. Dan perempuan tadi adalah Sari. Alasan dia mengamuk padaku karena suaminya berselingkuh denganku.

Ya, aku dan mas Indra menjalin kasih terlarang. Sudah hampir setahun. Berawal dari rasa nyaman yang tercipta saat kami bersama, saat kami lembur menyelesaikan tugas yang menumpuk, saat itulah tanpa sengaja kami bercumbu. Tapi tak ada niat dari kami untuk mengakhiri. 

Mas Indra benar-benar membuaiku. Menyanjungku setinggi langit, membuatku pongah karena ia membual aku lebih baik daripada Sari istrinya. Namun bangkai kami tercium kemarin saat tanpa sengaja Sari membaca pesan penuh kalimat sayang untuk mas Indra dariku. Entahlah, kami yang biasa bermain cantik saat itu lengah. Aku lupa harus menunggu mas Indra duluan yang mengirim pesan karena terlalu merindukannya. Dan mas Indra lupa mengunci ponselnya.

Saat kubaca balasan dari nomor mas Indra yang penuh cacian, aku langsung lemas. Badai akan segera datang.

Aku mengumpulkan tenaga untuk berjalan kembali ke parkiran pabrik. Aku harus segera pulang. Sebelum orang tahu apa yang baru saja terjadi dan melapor pada atasanku. Kulihat dari kejauhan mas Indra tergopoh-gopoh berlari ke arahku. Tadi pagi saat kuutarakan kecemasanku karena kejadian semalam, dia hanya mengelus kepalaku pelan dan berkata.

” Tenang aja. Kalo sampe Sari macam-macam sama kamu, mas yang maju duluan. ” 

Aku mendengus. Lalu kemana ia barusan? 

” Lis, kamu ga apa-apa kan? ” tanyanya saat sudah di depanku. Suaranya terdengar khawatir. Aku melengos. Menepis tangannya yang menyentuh lenganku. 

” Mas tadi di ruang akunting. Beresin laporan. Terus tiba-tiba pak Sardi ngebisikin ngasih tahu mas kamu diseret sama Sari. Mas ga bisa langsung pergi. Tunggu bu Ratna selesai baca laporan mas. ” penjelasan mas Indra tak ada gunanya untukku. Yang harus kulakukan adalah segera sampai di rumah dan memastikan tidak ada gosip aneh-aneh yang tersebar tentang kejadian tadi. Karena pak Sardi adalah televisi berjalan saluran gosip. Jika ia melihat Sari menyeretku, apa yang kutakutkan bisa terjadi.

 ” Aku mau pulang. ” 

” Aku antar. ” 

” Ga usah. ” 

” Aku antar. Kamu tunggu di tempat biasa.” aku yang memang masih lemas tak berdaya menolaknya. Mas Indra berlari ke parkiran pabrik setelah mengambil kunci mobil di tanganku. Sedikit terseok aku berhasil sampai di sebuah lapangan tak jauh dari belakang pabrik. Tempat aku dan mas Indra biasa janjian jika ingin pulang bersama.

Di dalam mobil menuju apartemenku, mas Indra hanya membisu. Seperti kehabisan kata-kata untuk menenangkanku. 

Aku sibuk memeriksa status sosial media rekan kerjaku. Benar saja, mereka sedang bergosip tentangku.

[ Ga nyangka ya tampang kalem ternyata…. ] tulis Anggun di status aplikasi hijau. 

[ Gue males kalo lagi denger dia ceramah perempuan harus jaga kelakuan, eh tapi eh tapi, ga mau nerusin ah. Hahahahaha… ] kata-kata Silvi yang mengejekku membuat wajah ini memanas. Susah payah aku membangun citra karyawan teladan, rusak dalam sehari. 

Aku beralih ke aplikasi biru. Ternyata lebih heboh.

[ Tau ga cerita sore dari sang karyawan teladan? ] tulis Inge. 

Sudah banyak balasan dari rekan kerja yang lain di statusnya ini. 

[ Aku ga tau, aku kan ikan. Hahahahaha ] balas Ira. 

[ Tadi dibawa kemana sih? ] 

[ Ga tau. Diracun kali di lapangan belakang. ]

[ Bukannya disemprot langsung di depan gerbang yah. Jadi kan kita ga perlu bertanya-tanya seperti ini. Hahahahahaha ] 

[ Kalo besok masih kerja, urat malunya udah putus kali ya ] 

[ Ada yang berani undang pak Bambang kesini ga? Biar tau kelakuan pegawai kesayangannya. ]

[ Ah jangan-jangan pak Bambang juga udah dikecup kali ma si embaknya. ]

[ Oh wow, aku terkejut. Hahahahahaha. ] 

 

Emosiku mulai tinggi. Tanganku meremas ujung bajuku dengan kasar. Keringat dingin mulai menjalari tubuhku. Padahal AC mobil cukup dingin. Badanku gemetaran sendiri tanpa kusadari.

Sesampainya di apartemen aku langsung menghenyakkan diri ke sofa di ruang tengah. Mas Indra membelai rambutku. Aku membiarkannya saja. Pikiranku sedang kalut. Bagaimana bila pak Bambang sampai tahu? Bisa-bisa rencana kenaikan pangkat dan gajiku dibatalkan. 

” Kamu mikirin apa sayang? ” ucap mas Indra lembut sekali. Aku menatapnya sebal. 

” Di whatsapp sama facebook udah pada heboh ngomongin aku. Gimana kalo sampe pak Bambang tahu mas?” aku bertanya padanya. Mas Indra tak langsung menjawab. Ia tampak berpikir keras. 

” Aku telepon saja pak Bambangnya sekarang. Sebelum ada yang ngadu macem-macem. Dia pasti percaya padaku. ” ujar mas Indra. Ah benar, ide bagus mas. Aku bergumam dalam hati.

Tanpa berpikir panjang mas Indra langsung menelepon pak Bambang. 

” Halo pak. Iya ini Indra pak. Maaf Indra nelepon jam segini, Indra mau ngomong sesuatu,,,” percakapan mereka tak lagi kudengar. Aku memilih berdiri di balkon apartemen. Mencoba mengais angin yang sedang malas berhembus. Kupejamkan mata. Berpikir adakah jalan keluar dari masalah ini? Asmara yang terasa manis ternyata seperti menelan empedu pada akhirnya. 

Mas Indra menepuk pelan bahuku. Senyumnya mengembang. Sepertinya mas Indra berhasil meyakinkan pak Bambang.

” Beres Lis. Aku bilang kalo Sari tadi emang marah sama kamu, tapi karena masalah pesan yang salah kirim. Seharusnya pesannya untuk pacarmu. Tapi malah kekirim ke aku. ” 

Hebat. Mas Indra luar biasa sekali bisa berpikir kreatif agar bisa keluar dari masalah ini, sementara aku hanya berputar-putar dalam kekalutan. 

Alasan ini bisa kugunakan untuk membalas teman-teman yang sudah menggosipkan diriku tadi di media sosial. 

Mas Indra mengecup keningku. 

” Mas ke kamar mandi sebentar. ” katanya sambil meletakkan ponselnya di meja kecil di sudut balkon.

Tak lama bunyi tanda pesan masuk dari aplikasi hijau terdengar dari ponsel mas Indra. Aku meraihnya. Mas Indra masih di kamar mandi. Aku yang memang tahu kata sandi ponsel mas Indra membukanya saat terbaca nama pak Bambang di bagian atas ponsel, ingin tahu apa yang pak Bambang kirimkan.

[ Sorry Ndra, tapi saya ga bisa percaya kamu. Ini bukti foto perselingkuhan kamu sama Lisa yang istri kamu kirim ke saya. Besok saya minta kamu dan Lisa langsung menghadap saya. ] 

Lututku lemas membaca pesan pak Bambang dan aku terperangah saat melihat foto diriku dan mas Indra sedang berpelukan di lapangan belakang pabrik dilampirkan pak Bambang di akhir pesan.

Aku merasa kaki dan otakku tak lagi sejalan. Kakiku melangkah pelan menuju ujung balkon. Kutapaki satu demi satu besi di pagar balkon. Terlihat oleh netraku halaman parkir di bawah dari lantai 13 ini. Tampaknya berbaring disana  bisa membantuku keluar dari asmara sesat ini. Kemudian yang kurasa ragaku melayang, angin yang tadi malas berhembus kini kurasakan kencang membelai tubuhku. Sayup-sayup kudengar suara mas Indra berteriak memanggil namaku di kejauhan.

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Email
RECENT POSTS
ADVERTISEMENT
Scroll to Top