Search
Close this search box.

Kambing

Kambing

Karya Annzhu

Ini bukan cerita fiksi ya. Tapi cerita tentang diriku sendiri yang memang takut kambing.

Yes, aku takut kambing. 

Hewan berbulu dan bertanduk yang populer saat lebaran haji.

Hewan yang mempunyai bau khas namun dagingnya mahal sekali harganya.

Hewan yang sangat menyebalkan di mataku.

 

Awal ketakutanku pada si embek itu dimulai saat aku berusia 5 tahun. Jadi ceritanya, aku lagi jalan digandeng sama mamah. Lupa darimana. Terus tiba-tiba ada seonggok kambing ngejar aku sama mamah. Emang dasarnya itu kambing sedeng. Aku sama mamah ga gangguin dia kok ya dikejar-kejar. Mamah panik dong tiba-tiba ada kambing geblek ngejar kita. Tangannya langsung nyambar aku yang masih kecil mungil imut dan menggemaskan. Tapi disitulah petaka dimulai. 

Mamah ga menggendong aku sesuai kaidah pergendongan. Seharusnya kepala aku didepan, memandang jalan yang sama dengan mamah. Namun yang terjadi, yang memandang jalan yang sama dengan mamah justru pantatku. 

Yang kupandang adalah wajah kambing itu. 

Kami berpandang-pandangan. Bulu putih butek agak lebat, tanduk kecil dan kuping panjang yang menjuntai masih jelas dalam ingatanku. Mataku berkedip-kedip menatapnya bingung. Namun badanku berayun-ayun manja karena mamah membawaku sambil berlari. Mamah menjerit minta tolong.

Tolong, tolong, ada kambing ngejar saya….

Dan kulihat banyak warga mengejar kami.

Mamah dan aku….

Kambing….

Warga….

 

Begitulah urutan posisi kami

Selama beberapa menit kami saling mengejar.

Aku yang ga berkutik di ketek mamah, terpaksa menikmati wajah si kambing itu.

Dengan napas menderu mengejar kami, berusaha menggapai kami. Entah apa yang ada dipikirannya. Apakah kami terlihat seperti rumput-rumput hijau yang menggoda dirinya? Ohh tidak. Aku benar-benar tidak akan pernah bisa melupakan wajah kambing jahanam itu. Bahkan aku masih ingat bagaimana ia berhasil menghantamkan tanduknya ke paha mamah. Mamah menjerit. Aarrgghhh….namun mamah tetap berlari. Terus berlari… Berusaha menyelamatkan kami. Menjauh dari kambing laknat itu. Sampai akhirnya sang pemilik kambing berhasil menangkap binatang tersebut. Kambing itu meronta. Terus meronta. Masih bernapsu mengejar kami. Lalu sang pemilik menyembelihnya, agar tak membahayakan siapapun lagi.

Ingatanku hanya sampai disitu. 

Hanya sampai wajah menyebalkan sang kambing dan paha biru mamah. 

Setelahnya, aku jadi takut melihat kambing. Wajah kambing itu terus terbayang di benakku hingga aku selalu takut setiap ada kambing di sekitarku. 

Aku selalu takut. 

Pernah ada suatu kejadian. Waktu masih tinggal di kontrakan tingkat. Ceritanya, sang empunya kontrakan mau membangun kios di pelataran bawah pas gerbang pintu masuk kontrakan. Tapi bangunannya baru setengah jadi. Terus aku disuruh sama mamah beli sabun cuci piring. Merek sinar matahari. Posisi warungnya di seberang. Warung bang ucok. Orang AMD pasti tahu. Aku dengan langkah lemah gemulai menunaikan titah baginda ibu negara dengan patuh. Namun sekembalinya aku dari warung, ada pemandangan yang sungguh mengerikan. 

Sekelompok kambing sedang mengadakan pertemuan di bangunan setengah jadi itu! 

Kapan mereka datang?

Bagaimana mereka bisa sampai disitu?

Siapakah yang dengan tega-teganya meninggalkan kambing itu di saat aku harus melewati jalan itu?

Siapa yang sedang bercanda denganku????

 

Aku termangu. Tidak bergeming. Setelah beberapa detik aku melangkah mundur. Mencari tempat duduk. Tapi tak kutemukan. Akhirnya aku memilih berdiri. Beberapa meter dari warung ucok. Menunggu kambing-kambing itu enyah dari jalur perjalanan pulangku. 

Aku menunggu…

Terus menunggu…

Masih menunggu…

Entah sudah berapa lama aku menunggu. Aku sudah berganti-ganti posisi menunggu dengan mata waspada masih menatap para binatang berbulu itu. 

Kadang berdiri

Kadang jongkok

Kadang berdiri sambil garuk-garuk

Kadang jongkok sambil garuk- garuk

Mau beli jajanan eh baru ingat tadi mamah kasih uangnya pas.

 

Aku berusaha mencari celah bagaimana aku bisa pulang tanpa harus berinteraksi dengan mereka. 

Tapi tak kutemukan.

Aku mulai putus asa. 

Dan kenapa pula ini kambing bisa ada disini??? Dengan durasi yang lama, tanpa aku tahu kapan mereka akan bubar. Kemanakah sang pemilik kambing?

Kamu kemana??

Mengapa aku harus berada di situasi ini ya Allah?

Mengapa ciptaanMu ini sungguh menyebalkan?

Masuk akal ga sih, ada kawanan kambing lagi ngerumpi di bangunan setengah jadi??

 

Lalu, aku melihat harapan. Sesosok penyelamat datang!

Akhirnya, aku bisa pulang. Hatiku amat senang. 

Sosok yang terlihat gempal dari jauh. 

Badan gemuk gemoy menggemaskan. 

Dengan raut wajah yang kesal nan geram. 

 

Papah!!!!!

 

” Ditungguin dari tadi. Mamah udah ngomel-ngomel itu. Beli sabun kok ampe sejam. Ngapain berdiri disini? ” omelan papah kutelan semua. Lalu tanpa menjawab aku menunjuk ke arah kawanan kambing yang masih asyik bercengkerama satu sama lain. Papah memutar kepalanya. Memandang ke arah yang aku tunjuk.

 

” Ada kambing pah. ” ucapku lirih. Papah menepuk jidat. 

” Udah segede gini masih takut embek?” papah menghela napas dalam-dalam. Tak lupa melepaskan. 

 

Aku mengangguk. Lalu papah menggandeng tanganku. Aku menutup mata. Bersembunyi di sebalik badan papah yang gemoy gemoy gemas sepanjang perjalanan pulang sampai ke tepi tangga. Lalu berlari ke atas. Bersiap untuk menerima omelan dari baginda Ratu. 

 

Pernah juga aku kembali ke situasi yang serupa, saat bertandang ke Korea, eh Kroya. Ke kampung halaman mertua. Singkat cerita, suami lagi BAB, eh ini bujur kok ya pengen BAB juga. Yang udah kenal saya dengan baik pasti tahu, keinginan BAB saya ini unik, datangnya seminggu sekali. Ngagetin ga pake aba-aba. Dan harus saat itu juga dihempaskan. Karena ga bisa kalau harus nunggu suami beres akhirnya saya lari ke rumah uwa di seberang. Dan entah kenapa ya, di sebelah rumah uwa harus ada kandang kambing. Posisi kamar mandi berdekatan dengan kandang kambing. Dempet. Dan selama saya menunaikan panggilan alam selama itu pula si kambing mengembik seakan meledek. Tapi karena mereka di dalam kandang aku ga begitu takut.

 

Mbeekk… broott…

Mbeeekk…broott

 

Itu adalah BAB paling ga nikmat yang pernah saya alami. Monmaap kalau imajinasi anda sedikit ternoda.

 

Yang paling sering terjadi itu adalah muter nyari jalan lain kalau ga sengaja ketemu kambing di jalan. Kambing-kambing yang dilepaskan pemiliknya untuk bisa sesaaat bebas menikmati alam. Saya yang melihat mereka dari jauh langsung puter balik. Cari jalan lain. Ga peduli jarak tempuh jadi lebih jauh dan lebih lama sampai rumah, yang penting ga ketemu sama kambing. 

 

Begitulah ketakutan saya akan kambing. Papah pernah bilang saya harus diterapi dengan cara lebih sering ngeliat atau megang kambing. Aku dengan sangat amat tegas menolak!!!! 

 

Maaf pah!!! Lebih baik aku makan sate kambing banyak-banyak.

Ya, meski aku takut sama kambing tapi aku sangat suka daging kambing. Nyaamm nyaaamm…

Aku selalu senang makan kambing, karena aku sangat amat mendukung pemusnahan populasi kambing.

 

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Email
RECENT POSTS
ADVERTISEMENT
Scroll to Top