Search
Close this search box.

Mantenan Mantan

Mantenan Mantan

Karya Annzhu

[ Aku capek berantem mulu. Kita putus aja. ] 

Aku mengirim pesan itu untuk Irwan, kekasihku. Tak lama kuterima balasan darinya. 

[ Aku juga capek. Oke fine. Makasih buat semuanya. ]

Aku langsung melempar ponselku ke kasur. Merebahkan diri. Memejamkan mata melepaskan penat yang terasa di sekujur raga ini. Sudah hampir seminggu ini aku selalu bertengkar dengannya. Entah karena komunikasi kami yang mulai tak sehat atau karena memang kami sudah di titik jenuh dalam suatu hubungan. Aku tak mengerti. Aku menyalakan pemutar musik di ponselku, menghilangkan suntuk dan rasa galau yang mulai datang. Perlahan aku menulis status di media sosialku. 

[ Mungkin memang bukan yang terbaik. ] 

Aku membubuhkan emot hati yang terbelah dua di ujung statusku. Aku membenamkan wajah di bantal Doraemon kesayanganku. Bantal pemberian Irwan di hari ulang tahunku. Aku menarik nafas dalam-dalam. 

Tanda pesan masuk di aplikasi WA milikku berulang kali terdengar. Aku meraih ponselku dan membaca dengan malas. Banyak yang bertanya kenapa aku putus. Aku tak mau menanggapi. Paling mereka hanya ingin tahu, batinku. Namun sebuah pesan dari seseorang yang sudah lama tak bertemu denganku membuatku tergerak untuk membalasnya. 

[ Re, emang baru putus? ]

Kak Rosa, gumamku. 

[ Iya kak. Kakak apa kabar?] balasku. 

[ Baik. Eh udah lama ga ketemu. Main sini ke rumah gue. ]

[ Iya, nanti hari minggu ya. ]

[ Nomer lu gue kasih Dion ya. ]

Deg! 

Dion adalah mantanku, ia adik kak Rosa. Aku berpikir sesaat. 

[ Iya udah. Kasih aja kak.]

[ Oke. Sip. Hari Minggu beneran ke rumah gue ya. ]

[ Iya kak. ]

Kak Rosa tak membalas lagi. Aku menerawang memandang langit-langit kamar. Dion adalah mantanku. Aku mengenal kak Rosa lebih dulu ketimbang Dion. Karena kami pernah melamar kerja di tempat yang sama. Namun hanya kak Rosa yang diterima. Sementara aku tidak. Kak Rosa yang memang baik hati mau mengantarku pulang. Setelahnya kami jadi akrab. Sering main ke rumahnya. Lalu aku mengenal Dion. Dan semakin dekat hingga memutuskan berpacaran dengannya. Yang lucu dari hubunganku dengan Dion adalah, aku hanya sebulan berpacaran dengannya. Aku sebal karena dia selalu genit dengan perempuan. Tapi dia tak menanggapi keluhanku. Aku memilih putus. Tapi aku masih berhubungan baik dengan kak Rosa. Bahkan mamah mereka. Mamah sering mengajakku jalan-jalan mencari angin. Tak peduli aku sudah bukan kekasih Dion lagi. Namun karena kesibukan pekerjaan sudah beberapa bulan aku tak lagi berkunjung ke rumah mamah Yulii. 

Lalu tak lama sebuah pesan masuk membuyarkan lamunanku.

[ Re. Ini Dion. Re apa kabar? ]

Aku tersenyum lalu membalasnya. 

[ Baik. Kamu apa kabar? ]

[ Baik juga. Kata kak Rosa kamu baru putus ya? ]

[ Iya. ]

Aku yang haus mengambil minum di atas meja riasku. Hampir aku tersedak saat membaca balasan Dion selanjutnya. 

[ Ya udah nikah aja sama Dion. ]

Ini anak dari dulu kalo becanda suka aneh-aneh, batinku kesal. 

[ Gampang amat ngomong nikah. Lagian Dion kan punya pacar. ] balasku greget. Aku tahu karena foto profilnya sedang duduk dengan seorang cewek. 

[ Nanti Dion putusin si Nanda. Dion juga udah capek pacaran. Nikah sama kamu aja Re. ]

Aku menelan ludah. Bingung mau jawab apa. 

[ Lagian juga dulu kan Dion pernah bilang waktu kita putus. Terserah Rere mau pacaran sama siapa, yang penting nikahnya sama Dion. ] Dia mengirim pesan lagi. Aku menarik nafas dalam-dalam. Tak mau menjawabnya. 

Iya, Dion memang pernah berkata seperti itu. Namun aku menganggapnya angin lalu. Toh, setelah sekian lama kami berpisah apa mungkin dia masih punya perasaan untukku. Aku tak percaya. 

Aku meraih ponselku lagi. Masih mendengarkan lagu mellow. Membuka sosial mediaku. Dan mataku terbelalak. Kak Rosa membuat status yang mengejutkanku. 

[ Dion mau kawin akhir tahun ini. Tapi ma Rere, bukan ma Nanda. ] 

Astaga, mereka ini. Kita saja sudah lama tidak bertemu. Aku memijit kepalaku pelan. Lalu mengirim pesan pada kak Rosa. 

[ Kak, ngapain bikin status kayak gitu. ] tanyaku. 

[ Biarin. Biarin si Nanda baca. Gue lebih suka lu daripada dia. ]

[ Ya ga usah diekspos gitulah kak. ]

[ Dion juga udah males ma dia. Gue udah kasih alesan yang bisa bikin mereka putus. Kemaren anak gue mergokin Nanda jalan ma cowok laen. ]

Aku bingung sendiri.

[ Pokoknya lu yang harus kawin ma Dion. Dion udah janji ma gue. Lu ke rumah gue ya hari Minggu. ] 

Aku tersenyum geli. Jika Dion bisa sedemikian yakin dengan diriku, lalu bagaimanakah aku? 

Aku baru saja putus. Baru saja. Dan perasaan untuk Dion sudah lama hilang. 

Namun aku selalu merasa disayang oleh mamah Yuli dan kak Rosa. Hal yang tak kurasakan saat masih bersama Irwan. Aku tak begitu dekat dengan keluarganya. Mungkin karena frekuensi pertemuan kami yang tak begitu sering  jika dibandingkan dengan keluarga Dion. Ah, kenapa aku jadi membandingkan. 

Apa aku coba dulu aja ya berhubungan sama Dion lagi. Sebuah pesan masuk mengalihkan pikiranku. 

[ Nanti ketemu di rumah kak Rosa ya hari Minggu. Nanti Dion jemput Rere. Dion udah kangen banget ma Rere. ] 

[ Iya. ] 

Aku hanya menjawab singkat. Karena memang tak tahu harus menjawab apa. 

Hari Minggu, aku menunggu Dion seharian yang katanya mau menjemput. Namun nomornya tak aktif dari semalam. sampai menjelang sore nomornya masih tak aktif dan dia tak kunjung datang. Aku mencoba mengirim pesan ke kak Rosa. 

[ Kak, Dion jadi datang? ]

Agak lama kak Rosa baru membalas pesanku. 

[ Iya nih Re. Ga ada kabar. Mungkin dia emang ga jadi kesini. Masih di Karawang. Lembur kali. ]

Aku menatap ponselku. Alasan kak Rosa membingungkanku.

[ Oh jadi Dion kerja di Karawang kak?]

[ Iya ]

Aku tak membalas lagi. Ada perasaan aneh menyelusup ke dalam hatiku. Kalau Dion tak jadi datang, mengapa kak Rosa tak menyuruhku tetap kerumahnya? Kan selama ini juga tak harus ada Dion aku bisa tetap berkunjung. Mungkin lagi sibuk atau memang ada sesuatu ya, batinku. 

 

Aku sedang berdiri didepan sebuah toko tak jauh dari kantor tempatku bekerja. Menunggu Fani, temanku membeli kue. Aku malas berdesakkan, jadi aku menunggunya di luar. Lalu mataku menangkap sesosok wanita yang kukenal keluar dari toko kue itu. Bawaannya banyak sekali. 

‘ Mah. ‘ sapaku sambil menepuk pundaknya. Mamah Yuli menoleh, terkejut namun senang melihatku. Meletakkan belanjaannya di bawah lalu memelukku erat. Seakan rindu berat. 

“ Rereeee… Mamah kangen banget. Kamu sibuk kerja ya jadi ga pernah nyamper mamah. ‘ ucapnya masih memelukku. Aku mengusap punggungnya. 

“ Iya, maaf mah. Nanti Rere main ke rumah mamah yah.” aku tersenyum. Ia lalu mengelus pipiku. 

” Anak mamah.” ucapnya pelan.

” Mamah beli kue banyak banget buat apa mah? ” 

” Buat lamaran Dion. “

Entah mengapa aku merasa tersipu.

 

Sudah hampir sebulan sejak pertemuan tak sengajaku dengan mamah di depan toko kue. Aku baru saja selesai dirias. Sedang duduk di pelaminan di teras rumah mamah Yulii. Ada kak Rosa disampingku. Tengah berswafoto dengan anaknya. Kulihat Dion berdiri di depan pintu kamar mamahnya. Menatapku penuh sayang. Aku mengalihkan pandanganku darinya.

” Cerita lu ma Dion kayak sinetron ya. ” celetuk kak Rosa sambil mengamati hasil swafotonya di ponsel. Aku hanya mengangguk. 

” Siapa yang nyangka, pas mau diputusin bapaknya Nanda malah nyuruh kawin. Nitip Nanda ke Dion. Udah firasat kali kalo mau meninggal. Jadi khawatir ma anak ceweknya. ” kak Rosa mengulang lagi cerita yang kudengar sebulan yang lalu dari mamah didepan toko kue. 

” Dion bukan jodohnya Rere berarti kak. ” sahutku singkat, lalu bersiap ke kursi depan menjalankan tugas sebagai penerima tamu di mantenan Dion, mantanku. 

 

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Email
RECENT POSTS
ADVERTISEMENT
Scroll to Top